Misi Integral: Pandangan Holistik Kekristenan Terhadap Upaya Pengentasan Kemiskinan

SUNGGUH menarik melihat beberapa artikel yang muncul di IndoPROGRESS menyoroti tema seputar Kekristenan dan kemiskinan. Menarik karena, jujur saja, walaupun tema ini seharusnya mendapatkan porsi yang memadai untuk didiskusikan, tapi nyatanya ia bukanlah trending topic di antara umat Kristen di Indonesia. Keengganan membicarakan isu kemiskinan di dalam gereja, kalau boleh saya simpulkan, disebabkan oleh dua permasalahan mendasar: pertama, gereja tidak merasa memiliki tanggung jawab dalam upaya pengentasan kemiskinan. Dan yang kedua, gereja tahu dirinya harus turun tangan tapi akhirnya tidak berbuat sesuatu atau kalau pun melakukan aksi, biasanya sebatas aktivitas-aktivitas karitatif seperti pengobatan gratis, pemberian makanan bergizi bagi balita atau kursus-kursus pelajaran sekolah. Tidak ada yang salah dengan program-program semacam itu, tapi tentu saja itu tidak cukup untuk mengatasi akar permasalahan kemiskinan di tengah sebuah komunitas.

Sebenarnya apa yang terjadi di Indonesia secara umum menggambarkan juga apa yang terjadi secara global dari waktu ke waktu. Di Amerika misalnya. Pada dekade awal abad 20, terdapat dua kelompok besar di antara gereja-gereja dalam memandang isu kemiskinan. Ada kelompok liberal yang begitu menggebu-gebu melakukan transformasi sosial sementara yang lainnya, kaum Injili, fokus pada upaya menyelamatkan jiwa yang berdosa.

Sebenarnya kedua belah pihak memiliki unsur kebenaran dalam argumentasi masing-masing, namun sayang tidak holistik. Gereja wajib menunjukkan kepedulian terhadap mereka yang miskin, tapi itu saja tidak cukup. Keselamatan jiwa manusia yang berdosa tentu saja tidak boleh luput dari perhatian gereja. Kedua hal tersebut terjalin secara integral dan digambarkan dengan baik di dalam Alkitab. Dalam artikel ini saya akan memberikan beberapa contohnya.

Di dalam Perjanjian Lama, misalnya. Suatu kali Alkitab mencatat tua-tua Israel datang menemui Samuel dan berkata, “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.”

Israel mau seperti bangsa-bangsa lain. Tidak mau diperintah lagi oleh seorang hakim. Apalagi mereka tahu bahwa anak-anak Samuel tidak punya kapasitas yang mumpuni dan karakter yang baik seperti ayah mereka. Jadi daripada diperintah oleh hakim baru yang tidak kompeten, sekalian saja minta seorang raja.

Samuel mengingatkan mereka perihal konsekuensi kehadiran seorang raja di tengah bangsa Israel, “Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikan kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu.” (1 Samuel 8:11-18)

Bangsa Israel menolak mendengarkan perkataan Samuel dan tetap meminta seorang raja. Samuel akhirnya mengikuti permintaan mereka dan singkat cerita terpilihlah Saul menjadi raja atas Israel. Disadari atau tidak, mulainya kerajaan di Israel tersebut memunculkan kelas-kelas baru di tengah-tengah bangsa itu. Jika sebelumnya masyarakat dapat dibilang relatif homogen, maka sekarang ada prajurit, kepala prajurit, pegawai istana, pegawai lainnya, juru masak, juru makanan dan seterusnya. Belum lagi, seiring perjalanan zaman, muncul profesi-profesi lainnya termasuk para pedagang. Selain itu, mulai muncul juga pajak dalam berbagai rupa seperti ternak yang terbaik, hasil kebun anggur dan hasil kebun zaitun.

Friksi pun mulai dan terus terjadi di antara berbagai golongan tersebut dalam perjalanan Bangsa Israel selanjutnya. Para nabi muncul untuk mengingatkan seluruh lapisan masyarakat agar tetap hidup di jalan yang dikehendaki Tuhan. Para pemimpin ditegur agar tidak berlaku semena-mena dan menindas rakyat.

Amos menentang lapisan masyarakat kelas atas Samaria (3:9, 10; 4:1-3), orang-orang kaya (5:11 dst), penyalahgunaan kepercayaan oleh pedagang (8:4-8). Hosea melawan lingkungan perdagangan yang menyenangkan diri dengan pemerasan dan penipuan (12:8-10). Yesaya menentang penguasa yang tidak memerintah dengan benar seperti para pejabat istana dan hakim-hakim (1:10-17; 10:1-4) dan juga tuan-tuan tanah yang kaya raya (5:8-11). Mikha pun buka suara terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan yang terjadi (2:1-3; 3:9-12). Yeremia tak ketinggalan. Ia mengkritik Raja Yoyakim dan Raja Zedekia (22:13-19; 34:8-22). Dan Yehezkiel menggugat para pemimpin yang lebih memikirkan kekayaan diri sendiri daripada rakyatnya (34).

Meski demikian, protes para nabi terhadap praktik-praktik sosial yang tidak benar tersebut tidak boleh dilihat sebagai pelopor perjuangan golongan atau kelas semata-mata. Menurut Noordegraaf hakikat pemberitaan sosial para nabi dapat disimpulkan sebagai berikut:

 

  1. Dosa-dosa sosial merupakan bentuk ketidaksetiaan orang Israel terhadap Tuhan. Dosa sosial bukan saja dosa terhadap sesama tetapi juga pelanggaran hukum Allah.
  2. Oleh karena itu, seruan para nabi bukan semata-mata bicara soal keadilan sosial atau kesejahteraan rakyat, tapi pertama-tama dan terutama adalah menyerukan panggilan untuk berbalik kepada Allah, untuk berdamai dengan Allah. Pengakuan dosa, perendahan diri dan perlunya pendamaian merupakan pemberitaan para nabi. Dan dengan kembali kepada Allah, mereka akan hidup benar dan adil.
  3. Kritik-kritik nabiah ditujukan bukan hanya kepada perorangan dan kelompok tertentu, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat melalui perwakilannya. Dosa yang bersifat perorangan dapat menggumpal dalam struktur-struktur yang ada.

 

Yesus pun menyuarakan hal yang senada di dalam karya-Nya di muka bumi. Dalam banyak kesempatan, Yesus mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengingatkan manusia untuk saling mengasihi, termasuk dalam bentuk melayani mereka yang miskin. Suatu kali Ia ditanyai mengenai hukum manakah yang terutama dalam Hukum Taurat. Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40).

Pada lain kesempatan Yesus memberikan Amanat Agung kepada murid-murid-Nya (Matius 28:19-20): “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

John Stott menulis demikian, “Jadi di sini ada dua perintah Yesus, Hukum Utama dan Amanat Agung. Apa hubungan dari keduanya? Sebagian dari kita menganggap keduanya sama saja, sehingga jika kita memberitakan Injil kepada seseorang, kita menganggap telah menunaikan tanggung jawab untuk mengasihi Dia. Tidak. Amanat Agung tidak menjelaskan, menyelesaikan atau mengganti Hukum Utama itu. Yang dilakukan oleh Amanat Agung adalah menambahkan keharusan untuk mengasihi dan melayani sesama kita manusia dengan suatu dimensi Kristen yang baru dan mendesak.”

Stott mengkritik misi yang hanya fokus pada perubahan sosial dan menyisakan sedikit atau bahkan tidak ada ruang bagi penginjilan, “Dewan Uppsala memberikan perhatian yang tulus kepada masalah kelaparan, kemiskinan dan ketidakadilan. Dan itu benar. Saya sendiri tergugah untuk hal-hal tersebut. Namun saya tidak menemukan ada perhatian atau belas kasihan yang lain yang setara dengan kelaparan rohani manusia… yang merupakan prioritas utama gereja… di mana masih ada berjuta-juta orang… yang tanpa Kristus pasti binasa. Saya tidak melihat Dewan ini secara keseluruhan ingin mentaati perintah-Nya. Yesus Kristus menangisi kota yang tidak mau bertobat yang telah menolak Dia. Saya tidak melihat Dewan menangisi hal yang sama.”

Yang menarik adalah bahwa Yesus sedang tidak hanya mengumbar kata-kata atau ajaran. Praktik hidup-Nya pun menunjukkan bahwa karya-Nya sungguh bersifat holistik. Ia memberi kesembuhan secara fisik tapi juga keselamatan jiwa bagi mereka yang percaya. Dan hal ini sebenarnya juga menjawab tentang hal yang mendasar, apa itu kemiskinan. Jika kemiskinan hanya didefinisikan sebagai isu kurangnya pendapatan, tidak terpenuhinya kebutuhan hidup mendasar seperti sandang, pangan dan papan, ketidakadilan sosial, penindasan maka upaya-upaya pengentasan kemiskinan hanya akan diarahkan pada bagaimana mengatasi hal tersebut. Namun, setidaknya bagi orang Kristen, kebutuhan manusia bukan hanya soal-soal seputar materialisme tapi juga kebutuhan spiritual. Rusaknya relasi manusia dengan Tuhan juga turut memengaruhi rusaknya relasi manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama (ketidakadilan sosial) dan dengan lingkungan (perusakan lingkungan).

Dan jika isu kemiskinan bersifat multi-dimensi maka misi penanganannya pun harus bersifat integral. Pelayanan terhadap sesama manusia (bahkan sesungguhnya bukan hanya untuk orang miskin tapi seluruh manusia) tidak bisa dikotak-kotakkan. Spiritual saja. Atau sosial saja. Atau fisik saja. Manusia adalah kesatuan utuh dari semua unsur tersebut.

Baru-baru ini, di dalam salah satu kolom di Christianity Today, K. A. Ellis mengisahkan perjumpaannya dengan sejumlah orang Kristen yang hidup di bawah rezim Komunis. Kesimpulan yang disampaikan oleh orang-orang Kristen tersebut adalah: Revelation is a stronger force than revolution. Perjumpaan dengan Kristus yang mendorong individu demi individu untuk terlibat dalam pelayanan sosial bagi sesama atau menjadi individu yang berintegritas di tengah-tengah komunitasnya yang hancur. Jadi, sekali lagi, misi itu harus integral dan ia bukan (sekadar) jalan tengah bagi mereka yang fokus hanya pada pelayanan sosial atau menekankan isu spiritualitas semata-mata. Ketimpangan pandangan dan tindakan tidak akan menyelesaikan permasalahan kemiskinan secara utuh. ***

 

Penulis adalah alumni pasca sarjana universitas Airlangga Surabaya. Kini tinggal di Bandung

 

Kepustakaan:

Noordegraaf, 2011. Orientasi Diakonia Gereja: Teologi Dalam Perspektif Reformasi. Jakarta: Gunung Mulia.

Stott, J. 1975. Murid Radikal Yang Mengubah Dunia. Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur.

Artikel Christianity Today (http://www.christianitytoday.com/ct/2017/april/insufficient-resistance.html)

 

TULISAN INI TAYANG PERDANA KALI DI INDOPROGRESS TANGGAL 6 JUNI 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s