Sambaran Petir dan Perubahan Jalan Hidup Martin Luther

As he was traveling, it happened that he was approaching Damascus, and suddenly a light from heaven flashed around him; and he fell to the ground and heard a voice saying to him, “Saul, Saul, why are you persecuting Me?” (Acts 9)

 

Di zaman yang sudah semakin canggih ini, persentase seseorang nyasar semakin kecil. Cukup masukkan informasi titik awal keberangkatan dan tempat yang akan  dituju pada aplikasi semacam Google Maps, maka akan muncul beberapa opsi alur perjalanan yang bisa kita tempuh. Lengkap dengan perkiraan berapa waktu yang  diperlukan. 

Pun sudah secanggih itu, masih terdapat kemungkinan rute berubah karena beberapa hal yang tidak (atau setidaknya belum) bisa diprediksi Google Maps. Misalnya jika kita melewati kompleks dan ternyata ada acara pernikahan anak Pak RT. Atau ketika Pak Hansip menghalau perjalanan karena ternyata sedang ada acara sunatan massal di kampung. Mau tidak mau arah perjalanan harus diubah.

Martin Luther pernah mengalami satu peristiwa yang mengubah perjalanannya. Dan bukan sekadar perjalanan ke kota atau kampung tertentu, tetapi lebih dari itu, perubahan jalan hidup. 

Jadi ceritanya, Luther sedang menempuh perjalanan pada suatu hari yang cerah di bulan Juli 1505. Mendekati Stotternheim, cuaca berubah drastis. Hujan deras tiba-tiba turun membasahi bumi. Petir dengan cepat menyambar dan hampir saja mengenai Martin Luther. Beruntung Luther bukan seorang yang latah. Coba kalau latah, pasti dia akan segera mengelus dada sambil bergumam, “Eh copot, eh copot, copot.” Alih-alih berkata demikian, Luther muda berteriak, “Help me, St. Anne! I will become a monk.”

Luther selamat. Dan pada saat yang bersamaan ia berada di persimpangan jalan. Menjalani “sumpah” yang baru saja ia ucapkan atau melanjutkan karier di bidang hukum. 

Luther tidak mau membuat keputusan secara emosional. Ia mengambil waktu sekitar 15 hari untuk berpikir, berefleksi dan berbincang-bincang dengan rekan-rekannya. Akhirnya ia mantap memutuskan hidup sebagai biarawan. Luther pun melepaskan segala harta miliknya dan masuk biara. Sang bapak, Hans, kecewa dengan keputusan anaknya. Hans sudah mempersiapkan Luther sebaik-baiknya untuk bisa memiliki masa depan cemerlang di dunia hukum.

Sejak usia 14 tahun, Luther sudah dikirim untuk belajar Bahasa Latin dan lanjut ke Universitas Erfurt. Karena sangat pintar, Luther dengan sigap melewati jenjang pendidikan yang ada di hadapannya. Pada usia 19 tahun ia sudah menjadi sarjana dan tiga tahun kemudian meraih gelar master. Luther juga dikenal ahli dalam berdebat dan diberi julukan “Sang Filsuf”. Tapi Luther kukuh pada pendiriannya. Hubungannya dengan sang bapak pun merenggang dan baru pulih setelah Luther menikah pada tahun 1525.

And the rest is history. Lain kalilah saya tulis kisah lanjutannya yang tak kalah menarik. Untuk sementara sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat untuk siapa pun yang sedang di persimpangan jalan. Tidak perlu menunggu petir menyambar untuk peka terhadap suara Tuhan dalam perjalanan hidup kita. Bukan apa-apa, syukur kalau cuma nyaris tersambar, lah kalau kena beneran, kelar idup loe! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s