Alkitab Sudah dalam Bahasa Lokal, Dibaca ya…

Sepertinya masih valid jika dikatakan bahwa minat baca orang Indonesia rendah. Sejumlah survey memperkuat gambaran tersebut. Pada bulan Maret 2016, Central Connecticut State University merilis hasil studi yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca.

Sementara itu pada tahun 2012, UNESCO melansir indeks tingkat membaca orang Indonesia hanya sebesar 0,001. Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Perhatikan kata kuncinya: BUKU. Bukan sekadar membaca artikel berita di gawai atau hasil copy-paste dari status medsos dan blog orang lain. Apalagi yang HOAX. Sayangnya, hari-hari ini malah yang terakhir itu yang rajin dikonsumsi masyarakat.

Dan data terakhir diungkapkan oleh Aan Mansyur (2017) yang menyebutkan bahwa jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia kurang dari 18.000 judul per tahun. Bandingkan dengan beberapa negara Asia lainnya seperti Jepang (40.000 judul) dan Tiongkok (140.000 judul). Dapat dikatakan bahwa jumlah buku yang diterbitkan berbanding lurus dengan minat baca.

Saya tidak tahu pasti sejauh mana kultur malas membaca ini memengaruhi kebiasaan orang Kristen di Indonesia dalam membaca Alkitab. Sejauh yang saya tahu belum ada riset khusus mengenai hal tersebut. Namun terlepas dari kondisi itu, saya yakin orang-orang Kristen di berbagai tempat termasuk di Indonesia paham betul bahwa Alkitab sungguh-sungguh merupakan Firman Tuhan. Dan dengan demikian perlu dibaca secara rutin.

Itu juga yang dipahami John Wycliffe (1330-1384). Baginya Alkitab memiliki otoritas dalam kehidupan setiap orang Kristen. Ada 5 hal yang menurutnya penting dalam mempelajari Alkitab: memiliki Alkitab dengan teks yang benar, memahami logika Alkitab dengan tepat, membandingkan satu bagian Alkitab dengan bagian lainnya, memiliki sikap rendah hati dalam belajar dan terbuka untuk menerima arahan dari Roh Kudus. Selain itu bagi Wycliffe yang tak kalah penting adalah membaca Alkitab dalam bahasa lokal. Ia berkata, “Yesus dan murid-murid-Nya juga mengajar banyak orang dalam bahasa yang mereka kenal.”

Dengan pemahaman demikian, mulailah Wycliffe dan beberapa rekannya menerjemahkan Alkitab dari Bahasa Latin ke Bahasa Inggris. Ia adalah orang pertama yang menerjemahkan seluruh isi Alkitab ke dalam Bahasa Inggris. Wycliffe mengerjakannya antara tahun 1381-1384. Namun Gereja merasa tindakan Wycliffe itu termasuk penistaan karena Alkitab yang dianggap sakral hanya yang dalam Bahasa Latin.

Salah satu serangan datang dari Henry Knighton begini: “Christ gave His Gospel to the clergy and the learned doctors of the Church so that they might give it to the laity and to weaker persons, according to the message of the season and personal need. But this Master John Wyclif translated the Gospel from Latin into the English—the Angle not the angel language. And Wycliffe, by thus translating the Bible, made it the property of the masses and common to all and more open to the laity, and even to women who were able to read … And so the pearl of the Gospel is thrown before swine and trodden underfoot and what is meant to be the treasure both of clergy and laity is now become a joke of both. The jewel of the clergy has been turned into the sport of the laity, so that what used to be the highest gift of the clergy and the learned members of the Church has become common to the laity.

Tudingan Archbishop of Canterbury Arundel lebih ngeri lagi: “That pestilent and most wretched John Wycliffe, of damnable memory, a child of the old devil, and himself a child or pupil of Antichrist, who, while he lived, walking in the vanity of his mind—with a few other adjectives, adverbs, and verbs, which I shall not give—crowned his wickedness by translating the Scriptures into the mother tongue.

Tapi langkah Wycliffe tak terbendung dan justru sekarang Alkitab semakin banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, baik nasional maupun daerah. Jika sudah begitu, tentu tidak ada lagi alasan untuk tidak membaca Alkitab setiap hari. Bukan begitu, teman-teman?
Mazmur 1:2: tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s