Perihal Eksistensi Tuhan Menurut Anselm

Perdebatan seputar eksistensi Tuhan merupakan salah satu topik diskusi paling klasik yang ada dalam sejarah kehidupan manusia. Berbagai argumentasi dilontarkan dengan beragam sudut pandang, baik dari kubu yang percaya bahwa Tuhan itu ada dan mereka yang tidak percaya. Salah satunya adalah Ontological Argument yang dikumandangkan oleh Archbishop Canterbury, Anselm (1033-1109). Tapi jauh sebelum menjadi archbishop, Anselm memulai perjalanan studinya di Bec, Normandy. Ia belajar di bawah asuhan Lanfranc, seorang pemikir yang sangat terkenal. Selama 30 tahun di Bec, Anselm meluangkan banyak waktu untuk mendalami misteri-misteri Teologi dan menuangkan pemikirannya ke dalam beberapa buku.

Salah satu buah pemikirannya adalah tentang eksistensi Tuhan yang ditulis dalam Proslogion. Menurutnya Tuhan itu, “that which nothing greater can be thought.” Tidak ada yang lebih besar yang dapat dipikirkan selain Tuhan. Berikut kutipan lebih lengkap perihal pendapat Anselm tersebut, “Thus even the fool is convinced that something than which nothing greater can be conceived is in the understanding, since when he hears this, he understands it; and whatever is understood is in the understanding. And certainly that than which a greater cannot be conceived cannot be in the understanding alone. For if it is even in the understanding alone, it can be conceived to exist in reality also, which is greater. Thus if that than which a greater cannot be conceived is in the understanding alone, then that than which a greater cannot be conceived is itself that than which a greater can be conceived. But surely this cannot be. Thus without doubt something than which a greater cannot be conceived exists, both in the understanding and in reality.”

Kalau mau disederhanakan, begini kira-kira pendapat Anselm: Tuhan adalah hal terbesar yang dapat kita pikirkan. Ada hal-hal yang hanya eksis di dalam pikiran kita tetapi ada juga yang eksis dalam realita. Hal yang eksis di dalam realita selalu lebih baik daripada hal-hal yang hanya ada di dalam imajinasi kita. Jika Tuhan hanya eksis di dalam imajinasi manusia, berarti Dia bukanlah hal terbesar yang dapat kita pikirkan karena tentu saja Tuhan di dalam realitas jauh lebih baik. Oleh sebab itu, Tuhan pasti eksis di dalam realita.

Dalam perjalanannya, ontological argument banyak mendapatkan sanggahan. Yang pertama datang dari Gaunilo. Di dalam In Behalf of the Fool, ia berkata bahwa pola pikir yang digunakan Anselm bisa dipakai untuk berbagai hal lainnya dan tidak hanya untuk Tuhan. Misalnya, pulau terbaik yang bisa saya bayangkan adalah pulau di mana saya bisa berenang dan bersantai di pantai tropis dan bermain ski di gunung. Saya dapat membayangkannya maka pulau tersebut pasti eksis. Karena jika tidak, maka sudah tentu itu bukan pulau terbaik yang ada. Pasti ada yang lebih baik dan yang lebih baik itu yang nyata. Anselm menanggapinya dengan berkata bahwa Gaunilo tidak memahami esensi yang ia maksudkan. Bagi Anselm argumennya hanya bisa digunakan untuk necessary beings (hal-hal yang sangat penting), dalam hal ini, Tuhan.

Keberatan lain yang terkenal terhadap argumen Anselm diajukan oleh filsuf Jerman Immanuel Kant beberapa ratus tahun kemudian dalam Critique of Pure Reason. Menurut Kant, eksistensi bukanlah sebuah predikat. Predikat adalah bagian kalimat yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicara tentang subjek. Sebagai contoh: Jika sebuah segitiga eksis, ia tentu memiliki tiga sisi. Namun bisa saja tidak ada segitiga yang sama sekali eksis. Karena ide tentang eksistensi bukanlah bagian dari bagaimana kita mendefinisikan sebuah segitiga. Atau dengan kata lain, jika Tuhan eksis, maka Ia sudah tentu adalah makhluk terbesar yang bisa kita bayangkan – tapi itu bukan berarti Ia pasti eksis. Predikat menambah esensi terhadap subjek tetapi tidak bisa digunakan untuk membuktikan keberadaannya.

Meskipun cukup banyak yang menyerang ontological argument, tidak sedikit pula yang membelanya atau memodifikasinya. Rene Descartes misalnya. Ia mengatakan bahwa karena kita bisa memiliki gambaran tentang makhluk yang sempurna maka kita harus tiba pada kesimpulan bahwa makhluk tersebut eksis.

Selain Descartes, adalah Alvin Plantinga yang pada tahun 1974 juga mendukung ontological argument. Berikut gambaran umum pandangannya: Katakanlah ada sebuah entitas memiliki “kesempurnaan maksimal” jika dan hanya jika ia omnipotent, omniscient dan sempurna secara moral. Lalu katakanlah sebuah entitas memiliki “kebesaran atau kehebatan maksimal” jika dan hanya jika ia memiliki kebesaran maksimal di setiap dunia yang mungkin ada-dan itu artinya, jika dan hanya jika entitas tersebut benar-benar eksis dan benar-benar maksimal sempurna. Maka pertimbangkan argumen ini:

  1. Terdapat sebuah dunia yang mungkin ada yang di dalamnya terdapat entitas yang memiliki kebesaran yang sempurna.
  2. Oleh karena itu tentulah ada entitas yang memiliki kebesaran yang sempurna.

Argumentasi Plantinga didasarkan pada relasi antara greatness dan excellence. Bagi Plantinga, kebesaran suatu makhluk bergantung pada kesempurnaan makhluk tersebut – dan kesempurnaan tersebut terjadi pada setiap dunia yang mungkin. Reformulasi yang dilakukan Plantinga ini disebut sebagai Victorious Modal Version yang dengan menggunakan istilah dunia yang mungkin ada untuk menghindari asumsi dari Anselm bahwa eksistensi merupakan sebuah property – predikat. Dan dengan demikian, model dari Plantinga ini terlepas dari kritik Kant. Sejumlah nama lain yang juga mendukung Ontological Argument antara lain Scotus, Spinoza, Leibniz, Norman Malcolm dan Charles Hartshorne.

Seorang filsuf Inggris, John Wisdom yang menggambarkan perdebatan seputar ontological argument. Analogi ini dikenal sebagai parabel Tukang Kebun yang Tidak Kelihatan. Begini analoginya: Ada dua orang, A dan B, yang kembali ke sebuah kebun setelah lama tidak berkunjung ke sana. Mereka menemukan bahwa masih ada sejumlah tanaman yang hidup di kebun itu. Si A berkata, “Seorang tukang kebun pasti telah menjaga kebun ini selama kita pergi.” Si B meragukan hal ini dan mereka bersepakat untuk menunggu apakah si tukang kebun akan muncul atau tidak.

Setelah sekian waktu, tukang kebun tidak kunjung datang. A memberikan pendapatnya, “Tukang kebun ini pasti invisible.” Mereka lalu menyiapkan perangkap untuk menangkap si tukang kebun. Namun mereka tak juga menemukan si tukang kebun. A lalu berkata, “Tukang kebun pasti intangible dan juga unsmellable.” B menjawab, “Apa bedanya antara tukang kebun yang tidak kelihatan, tidak bisa disentuh, tidak bisa tercium, sama sekali tidak terdeteksi dengan… tidak ada tukang kebun sama sekali?”

Masih banyak tokoh dan argumentasi lainnya seputar keberadaan Tuhan. Akan saya bagikan pada lain kesempatan ya… Namun kiranya artikel awal tentang Anselm dan Ontological Argumentnya bisa memantik refleksi pribadi: Jika orang bertanya tentang iman dan pengharapanmu kepada Kristus, apa jawaban yang akan kamu berikan?

1 Petrus 3:15-16: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s