Pandangan Thomas Aquinas tentang Eksistensi Tuhan

Pada tulisan terdahulu kita sempat membahas pandangan Anselm perihal eksistensi Tuhan. Kini saatnya melihat pemikiran Thomas Aquinas (1225-1274) dalam menyikapi topik tersebut. Tapi sebelumnya, mari cermati sedikit kisah hidupnya.

Aquinas lahir tahun 1225. Pada usia 5 tahun ia bersekolah di biara Monte Cassino. Pada usia 14, Thomas masuk ke University of Naples. Di sana ia begitu terkesan dengan pengajarnya dari Ordo Dominican.

Hal itu memengaruhi keinginannya untuk melanjutkan studi di biara Dominican. Namun seperti beberapa tokoh iman pada abad pertengahan, jalan Aquinas untuk menjadi seorang teolog tidaklah mulus. Keluarganya tidak setuju ia masuk biara. Mereka ingin Aquinas menjadi orang yang sukses dan kaya raya. Namun tekad Aquinas sudah bulat. Ia pergi ke Paris untuk belajar teologi.

Dalam perjalanannya, Aquinas menyertakan logika/pemikiran ketika mempelajari teologi. Dalam Summa Theologica, ia mengatakan, “In sacred theology, all things are treated from the standpoint of God.” Menurutnya, filsafat dan teologi, logika dan pewahyuan bukanlah hal-hal yang kontradiktif. Keduanya merupakan sumber pengetahuan dan keduanya berasal dari Tuhan. Oleh karenanya, ia meyakini pentingnya integrasi iman dan logika, dan bukan pemisahan. Aquinas melanjutkan, “In order that men might have knowledge of God, free of doubt and uncertainty. It was necessary for divine truth to be delivered to them by way of faith, being told to them as it were, by God himself who cannot lie.

Dengan cara pandang seperti ini, Aquinas menyusun tesisnya termasuk soal eksistensi Tuhan. Ia mengatakan bahwa ada lima cara pembuktian bahwa Tuhan sungguh eksis.

  1. Argument from motion
  2. Argument from causation
  3. Argument from contingency
  4. Argument from degrees
  5. Teleological Argument

Dalam argumen yang pertama ia menyebutkan demikian: Kita hidup di dalam dunia yang di dalamnya barang-barang bergerak (in motion). Pergerakan disebabkan karena adanya penggerak. Segala sesuatu yang bergerak pasti digerakkan oleh sesuatu yang lain yang bergerak. Dan pasti ada sesuatu yang memulai semua gerakan tersebut untuk pertama kalinya. Bagi Aquinas tidak ada infinite regress. Infinite regress maksudnya adalah dalam hal rantai argumentasi, bukti untuk setiap poin di sepanjang rantai bergantung pada keberadaan sesuatu hal yang lain yang datang sebelumnya. Dan itu artinya kebergantungan itu terus mundur ke belakang dan tidak ada titik mula. Aquinas berpendapat ada yang menjadi penggerak awal dan itu adalah Tuhan.

Argumennya yang kedua adalah argument from causation. Kali ini pendekatan yang ia gunakan adalah sebab dan akibat (cause and effect). Berikut ini gambaran argumennya: Beberapa hal disebabkan oleh sesuatu. Semua hal yang disebabkan pasti disebabkan oleh hal lain (karena tidak mungkin ia disebabkan oleh diri sendiri). Dan seperti argumen sebelumnya, menurut Aquinas dalam hal ini tidak berlaku infinite regress. Jadi pasti ada penyebab pertama, dan dirinya tidak disebabkan. Itulah Tuhan.

Selanjutnya, argument from contingency. Aquinas menyebutkan bahwa kita tidak mungkin tinggal di dunia di mana semuanya bersifat contingent karena jika demikian semuanya bisa jadi tidak pernah eksis. Apa itu contingent? Contingent adalah any being that could have not existed. Termasuk di dalamnya bisa saja Anda. Ya, Anda yang sedang membaca tulisan ini. Anda bisa saja tidak eksis dan dunia akan terus berjalan. Menurut Aquinas, pasti ada satu necessary being, a being that has always existed, that always will exist, and that can’t not exist. Necessary being tersebut ialah Tuhan.

Yang keempat adalah argument from degrees. Aquinas menggambarkannya sebagai berikut: Properties come in degrees. In order for there to be degrees of perfection, there must be something perfect against which everything else is measured. God is the pinnacle of perfection.

Dan yang terakhir, argumennya diambil dari bagaimana dunia diatur. Menurut Aquinas ada intelligent being yang eksis dan mengatur seluruh alam semesta, yaitu Tuhan. Teleological Argument kemudian dipopulerkan oleh filsuf Inggris yang bernama William Paley melalui tulisannya yang berjudul Natural Theology (1804). Teleological argument sering juga dikenal dengan istilah Intelligent Design. Teleological berarti goal-oriented atau purposeful. Ia berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu telos yang berarti akhir atau tujuan. Dalam menjelaskan pemikirannya, Paley mengajukan sebuah analogi yang disebut analogi Pembuat Jam. Sebuah jam tidak mungkin langsung hadir dalam bentuk jam. Pasti ada orang yang membuatnya dengan desain tertentu dan yang lebih penting lagi adalah dengan tujuan tertentu. Dan dengan demikian, maka dunia pun pasti ada yang menciptakannya. Berikut kutipan tulisan Paley:

[S]uppose I found a watch upon the ground, and it should be inquired how the watch happened to be in that place, I should hardly think … that, for anything I knew, the watch might have always been there. Yet why should not this answer serve for the watch as well as for [a] stone [that happened to be lying on the ground]?… For this reason, and for no other; namely, that, if the different parts had been differently shaped from what they are, if a different size from what they are, or placed after any other manner, or in any order than that in which they are placed, either no motion at all would have been carried on in the machine, or none which would have answered the use that is now served by it (Paley 1867, 1).

Nah, sampai di sini dulu pembahasan lanjutan tentang eksistensi Tuhan. Semoga bermanfaat.

 

God said to Moses, “I AM WHO I AM” (Exodus 3:14)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s