Sebelum Depresi Berakhir Dengan Bunuh Diri

Dunia kembali digemparkan dengan kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh musisi papan atas. Vokalis Linkin Park, Chester Bennington mengakhiri hidupnya sendiri pada hari Kamis (20/7/2017). Ironisnya, hal itu terjadi bersamaan dengan hari ulang tahun sahabatnya Chris Cornell yang juga mati bunuh diri beberapa bulan silam. Depresi dikabarkan menjadi penyebab keduanya memilih untuk bunuh diri.

Pada kenyataannya depresi tidak hanya menghantui kehidupan para musisi jagoan ini. Ia dapat menyerang semua orang. Bahkan bagi sebagian orang, depresi berakhir dengan kematian melalui bunuh diri. Pada 2013, di Amerika diperkirakan terjadi kasus bunuh diri setiap 15 menit dan itu berarti secara total ada 35,000 kejadian bunuh diri dalam setahun. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2015. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) ada 10,000 kejadian bunuh diri di Indonesia pada tahun 2012.

Di kalangan orang Kristen global salah satu kasus bunuh diri yang menggemparkan terjadi pada tahun 2013 dan menimpa Matthew, anak dari Rick Warren (Pendeta Saddleback Church). Penyebabnya? Depresi dan isu kesehatan mental lainnya. Dalam salah satu bagian pernyataan resminya tentang kematian Matthew, Rick menulis:

Kay and I often marveled at his courage to keep moving in spite of relentless pain. I’ll never forget how, many years ago, after another approach had failed to give relief, Matthew said ” Dad, I know I’m going to heaven. Why can’t I just die and end this pain?” but he kept going for another decade.

Di Alkitab sendiri terdapat beberapa kisah tentang bunuh diri: Raja Saul (1 Samuel 31:2-4), Pembawa senjata Saul (1 Samuel 31:5), Yudas (Matius 27:3-5), Abimelekh (Hakim-hakim 9:50-54), Ahitofel (2 Samuel 17:23) dan Zimri (1 Raja-raja 16:15-20). Sejumlah tokoh Alkitab lainnya juga bergumul dengan isu depresi dan niat bunuh diri, misalnya Daud (Mazmur 22:2; 42:11). Atau Elia. 1 Raja-raja 19:4 mencatat: Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

Pada umumnya orang-orang Kristen sepakat bahwa bunuh diri adalah tindakan dosa. Namun terjadi perdebatan mengenai apakah hal tersebut adalah dosa yang bisa diampuni atau tidak. Menurut John Calvin, satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni adalah hujat terhadap Roh Kudus (berdasarkan Matius 12:31).

Tapi pada kesempatan kali ini, saya lebih ingin mengajak kita untuk fokus pada apa yang bisa dilakukan oleh gereja terhadap orang-orang yang mengalami depresi. Tentu dengan harapan agar mereka tidak tiba pada keputusan bunuh diri. Secara mendasar, mengetahui dan menerima keberadaan mereka yang sedang mengalami depresi adalah titik masuk yang penting. Dalam Kisah Para Rasul 16 dikisahkan bahwa ketika kepala penjara terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!” Kepala penjara tidak jadi bunuh diri. Bahkan akhirnya ia dan seisi rumahnya percaya kepada Allah.

Menurut Thomas D. Kennedy (professor of philosophy at Valparaiso University) ada tiga hal yang bisa dilakukan komunitas orang percaya:

Pertama, gereja mesti memiliki komitmen untuk menjadi “community of truth, a community in which believers tell the truth about their own lives. A church must hear the stories of pain, suffering, and failure in the lives of its members; and those who tell the stories must receive from the church both lamentation and the healing balm of Christ. When the church is open and honest about pain and suffering, it can then confront in love even the most difficult of human crises and failures–suicide.”

Kedua, gereja harus menjadi gereja yang penuh kasih, tidak menghakimi mereka yang depresi. Dan terakhir, gereja menjadi komunitas yang penuh sukacita, yang merayakan kehidupan baru di dalam Kristus dan mengundang siapa pun untuk turut merayakan kegembiraan tersebut.

Pada akhirnya, ketahuilah sahabat bahwa Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita (Matius 8:17). Selalu ada pengharapan di dalam Dia, seberat apapun kondisi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s