Perihal Mendidik Anak, Sebuah Tugas yang (Selalu) Belum Selesai

Menjadi orang tua itu tidak gampang. Teori pendidikan anak memang segudang, tapi pelaksanaannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Seorang teman menuturkan kisahnya, “Saya punya beberapa buku teori pendidikan anak. Ada dari sudut pandang psikologi, dari sisi kesehatan, teori perkembangan anak dan lain-lain. Tapi belum habis saya baca bab panduan untuk usia 0-6 bulan, anak saya tiba-tiba sudah masuk bulan ketujuh.”

Saya juga mengalami hal yang serupa. Waktu terasa begitu cepat, anak-anak bertumbuh pesat dan saya merasa ada sesuatu yang harusnya bisa saya lakukan lebih baik di masa silam. Penyesalan memang sering datang terlambat (kalau datang awal, itu namanya ngantri perpanjangan SIM).

Padahal komitmen saya sebenarnya tidak muluk-muluk yaitu meluangkan waktu sebanyak-banyaknya dengan anak-anak. Saya enggan bersembunyi di balik “kalimat sakti”: “Sedikit waktu tidak masalah, yang penting berkualitas.” Isi (content) jelas penting, tetapi mendidik anak itu perlu pengulangan, terus-menerus. Kuantitas dan kualitas, keduanya adalah koentji.

Ulangan 6:6-9 mengingatkan para orang tua: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”

Menurut J. Hampton Keathley III, di dalam ayat-ayat tersebut ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan:

  1. Pendidikan anak memerlukan ketekunan dan ketepatan sasaran. Kata mengajarkan yang digunakan adalah shanan (Ibrani) yang berarti: “to communicate or teach the words or God’s truth incisively, that is, in a clear and precise way.” Di balik hal tersebut ada komponen penting lainnya: orang tua mesti paham terlebih dahulu Alkitab. Kalau tidak paham, apa yang mau diajarkan 🙂
  2. Berulang-ulang dan berlangsung secara natural. Pendidikan anak berlangsung dalam setiap kesempatan: waktu sedang duduk-duduk santai, ketika jalan-jalan, dan sebagainya.
  3. Bersifat personal. Mengikatkan dan menuliskan dapat dimaknai dan diikuti sebagai perintah yang langsung diterapkan lurus-lurus. Tetapi hal itu juga merupakan simbol yang menekankan adanya kebutuhan akan realitas dari perintah Allah yang terwujud dalam kehidupan orang tua.

Meluangkan dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mendidik generasi selanjutnya terlihat dalam beberapa kisah di Perjanjian Lama. Misalnya Abraham, Ishak dan Yakub. Ibrani 11:9 mencatat: “Karena iman ia (Abraham) diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.”

Ishak, bersama opung Abraham mendidik Yakub yang meluangkan lebih banyak waktu di kemah (Kejadian 25:27). Sekitar 15 tahun opung Abraham tinggal bersama-sama anak dan cucunya itu. Lima belas tahun yang dimanfaatkan untuk menurunkan iman dan janji yang dimilikinya dari Allah kepada generasi selanjutnya (Kejadian 18:18-19). Abraham sendiri bertumbuh dengan mengalami didikan langsung maupun tidak langsung dari generasi pendahulunya seperti Nuh, Sem dan Eber.

Menjadi orang tua itu tidak gampang. Tapi selama masih ada waktu, pantaslah kita upayakan yang terbaik yang kita bisa untuk generasi penerus. Selamat Hari Anak Nasional, tuan dan puan sekalian…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s