Tak Ada Tempat Bersembunyi dan Memang Tak Perlu Bersembunyi

Di tengah kultur yang dikendalikan oleh media sosial, manusia cenderung menampilkan citra positif di hadapan publik. Orang lebih memilih untuk (selalu) tampil positif, bahagia, kaya, sehat, tanpa masalah. Namun tentu kita semua tahu, tak ada hidup yang senang-senang terus. Tapi dunia semakin mudah menghakimi. Kepleset sedikit, orang langsung nyinyir, apalagi kalau beneran terperosok. Tak heran jika banyak yang bersembunyi.

Ada contoh nyata nan tragis terkait dengan upaya manusia bersembunyi yang diungkapkan Charles Duhigg dalam bukunya The Power of Habit.

Ketika baru bergabung dengan Target sebagai data expert, Andrew Pole mendapatkan pertanyaan dari rekan-rekannya: “Dapatkah komputermu mengetahui mana pelanggan yang sedang hamil?” Bagi Target, jika itu dapat dilakukan maka mereka akan menjadi perusahaan bernilai jutaan dolar. Para bumil punya banyak kebutuhan. Dan ketika sudah melahirkan, daftar belanjaan tak justru menyusut. Dalam pandangan Target, ini adalah pangsa pasar ideal yang harus disasar.

Singkat cerita, Target berhasil membuat “pregnancy predictionscore yang didasarkan pada 25 jenis produk yang dibeli oleh specific buyer selama ini. Bagi para perempuan yang diprediksi hamil, Target akan mulai mengirimi brosur, selebaran, kupon kepada mereka untuk produk-produk pada masa kehamilan dan pasca melahirkan, termasuk kebutuhan si bayi nantinya.

Suatu kali ada seorang Bapak memasuki toko Target dan marah-marah. “Putri saya masih sekolah. Tapi dia mendapatkan brosur-brosur ini, tentang baju bayi dan sejenisnya. Apa maksud kalian? Mau mendorong anak saya supaya segera hamil?” Manajer toko segera minta maaf dan bahkan beberapa hari kemudian kembali menelpon Bapak tersebut untuk kembali meminta maaf. Tetapi si Bapak menjawab, “Saya sudah bicara dengan anak saya. Dia ternyata memang sedang hamil dan akan melahirkan bulan Agustus nanti.”

Sang anak menyembunyikan sesuatu dari sang bapak, tapi tidak dari Target. Dan bagi orang-orang percaya, ada yang jauh lebih hebat dari Target, di mana kita tidak bisa bersembunyi, yaitu Tuhan.

Dalam Mazmur 139 dinyatakan bahwa Allah memiliki tiga atribusi:

  1. Omniscience (ayat 1-6): TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.
  2. Omnipresence (7-12): Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,” maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.
  3. Omnipotence (13-18): Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.

Faktanya manusia tidak bisa bersembunyi dari Allah. Tidak ada pencitraan yang berhasil di hadapan-Nya. Dan jika sudah begitu, baiklah kita tidak bersembunyi dari-Nya. Tapi mengikuti apa yang dikatakan Daud selanjutnya pada ayat 23-24:

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s