Menjangkau Jiwa di Sabu

Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. (Kis 17:23)

 

Ketika berkunjung ke Pulau Sabu pada akhir Agustus 2017, saya berkesempatan menjumpai beberapa orang pendeta dari berbagai gereja. Salah satunya adalah Pendeta Tobi (GEKARI). Lokasi gerejanya berada di pinggir jalan kabupaten dan cukup jauh dari pusat kota (sekitar 45 menit). Gereja memiliki tanah yang terbilang luas. Meski demikian gedung gerejanya sendiri sangat kecil. Fasilitas di dalamnya juga sederhana. Alat musik yang tersedia hanyalah sebuah gitar akustik. Dan untuk menayangkan lirik lagu, mereka masih menggunakan OHP. Di samping gereja berdiri sebuah rumah yang juga tidak besar, itulah tempat keluarga Pendeta Tobi tinggal.

Pendeta Tobi tiba di Sabu pada tahun 2012. Kala itu kas gereja cuma Rp 158.000 dengan jumlah jemaat hanya 7 KK. Pendeta Tobi fokus untuk menjangkau masyarakat yang masih memegang kepercayaan tradisional, Jingitiu. Saat ini jemaatnya berkembang menjadi 22 KK. Beberapa di antaranya adalah orang-orang tua yang bertahun-tahun berkeras tidak mau percaya Yesus. Salah satu alasan mengapa masyarakat Jingitiu tidak mudah percaya Kristus adalah karena mereka menganggap secara moral kehidupan orang Kristen tidak lebih baik. Bahkan banyak yang berperilaku jahat. Isu perjudian dan hubungan seks di luar nikah masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, termasuk yang (mengaku) beragama Kristen.

Dalam pelayanannya, pasangan suami istri ini kadang mendapatkan bantuan dari mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi yang sedang magang. Yang menarik, para mahasiswa ini tidak hanya diberi kesempatan untuk berfirman atau melakukan tugas-tugas pastoral pada umumnya. Tetapi mereka juga harus melakukan tugas-tugas yang terkesan tidak nyambung seperti mengambil air di lokasi yang lumayan jauh, membersihkan lingkungan sekitar, harus berjalan kaki berjam-jam menuju lokasi perkampungan Jingitiu dan sebagainya. Menurut Pendeta Tobi, pelayanan tidak hanya soal membagikan firman tetapi melayani sesama. Ini ditunjukkan Pak Tobi bersama istri melalui sejumlah kegiatan seperti pengembangan pendidikan anak usia dini, pelayanan bagi para perempuan yang hamil di luar nikah, dan berbagi sumber daya apapun yang mereka miliki dengan orang-orang yang membutuhkan.

Keluarga Pendeta Tobi saat ini dikaruniai 2 orang anak yang masih kecil, seorang perempuan dan seorang anak laki-laki. Untuk kebutuhan air, mereka harus menimba dan mengambilnya dari sumber air yang jauh dari rumah. Kini mereka sedang mengupayakan bisa membuat sumur di sekitar rumah untuk mempermudah akses terhadap air. Sedangkan untuk menopang kebutuhan sehari-hari terkadang sang istri berjualan es kelapa di depan gereja.

Dalam bagian akhir percakapan, kami sempat menanyakan apakah ada rencana mereka untuk kembali ke Kupang? Tanpa pikir panjang mereka mengatakan belum ada. Bahkan tidak terlintas di benak mereka saat ini. Mereka masih meyakini adanya panggilan Tuhan yang kuat untuk melayani dan menjangkau masyarakat adat pemeluk Jingitiu di Sabu. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah di tengah kondisi alam yang juga sulit. Kiranya Bapak Ibu berkenan mendukung keluarga ini dalam doa. Dan doakan juga gereja-gereja lainnya agar semakin bersatu hati dalam pelayanan bersama dan mereka bisa membawa transformasi bagi Pulau Sabu.

Soli Deo Gloria.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s